Pasutri Pertontonkan Adegan Asusila Diduga Miliki Motif Lain
china gzh 2019-07-11

Polisi menduga motif ekonomi bukan alasan pasutri mempertontonkan adegan asusila.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Pemeriksaan terhadap pasangan suami istri (pasutri) yang diduga mempertontonkan adegan asusila kepada anak-anak di bawah umur di Tasikmalaya masih terus dilakukan. Pasangan suami istri itu sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Tasikmalaya Kota.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Tasikmalaya Kota, AKP Dadang Sudiantoro mengatakan, pihaknya masih terus melakukan pemeriksaan untuk menelusuri motif tersangka. Namun, tersangka masih belum mengakui perbuatannya.

"Perkembangan sampai saat ini masih melengkapi keterangan saksi-saksi dan mengumpulkan alat bukti. Pelaku hingga saat ini tidak mengakui, tapi penyidik tidak mengejar pengakuan tapi mengejar alat bukti," kata dia, Kamis (20/6).

Menurut dia, motif ekonomi tidak terlalu kuat bagi tersangka untuk melakukan aksinya. Ia menduga ada motif lain yang mendasari tersangka mempertontonkan adegan ranjang ke anak di bawah umur secara berbayar.

"Untuk selanjutnya kami akan berkordinasi dengan ahli kejiwaan untuk memastikan motif dari pelaku ini," kata dia.

Pasutri asal Desa Kadipaten, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, berinisial ES (24 tahun) dan LA (24) membuat geger warga. Mereka diduga mempertontonkan adegan suami istri kepada anak-anak dengan memungut biaya Rp 5.000 per anak.

Aksi itu diketahui setelah salah satu anak yang menjadi korban menceritakan peristiwa tersebut kepada guru mengajinya. Kejadian itu diperkirakan terjadi sekitar Mei 2019.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto mengatakan, laporan berawal dari para orang tua yang resah dengan kelakuan suami istri tersebut. Awalnya hanya informasi mulut ke mulut, sampai akhirnya pengakuan dari anak-anak yang pernah menonton dan membenarkan kejadian itu.

Ato menambahkan, sebelum beradegan ranjang, suami istri tersebut dengan sengaja mengumpulkan anak-anak di bawah umur yang berkeinginan menonton keduanya. Keduanya meminta bayaran dan mempersilahkan anak-anak menonton di rumahnya.

Sebagian besar penontonnya adalah anak-anak yang tinggal di sekitaran rumahnya. "Informasi ini pun membuat geger warga sekaligus membuat resah. Sampai akhirnya kami pun mencari informasi lebih detail. Pasangan itu hanya memperbolehkan yang menontonnya anak-anak saja," kata dia.