INTI Jawa Tengah adakan Internasional Charity Seminar mengenai Anak Autis
china gzh 2019-07-19

Pertama.id – Solusi membangun komunikasi yang Efektif. Orangtua perlu lebih dulu mengenali data dan gaya komunikasi kepada Sang Anak berkebutuhan khusus.

Sampai sekarang masih banyak orang yang belum mengerti apa itu autisme. Tak sedikit pula yang tahu bahwa tanggal 2 April adalah “Hari Peduli Anak Austisme Sedunia”, sebagai bentuk kepedulian nyata masyarakat internasional pada anak-anak dan remaja penyandang autisme.

Untuk itu, organisasi masa Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI Jawa Tengah) menggelar INTERNASIONAL CHARITY SEMINAR mengenai anak autis di AULA DINAS SOSIAL (Dinsos Jateng), Jalan Pahlawan No. 12 (Kawasan Simpang Lima) Semarang kemarin hari Kamis (18/7-2019), mulai pukul 12.30 – 17.30 WIB.

INTERNATIONAL CHARITY SEMINAR bertajuk “Meningkatkan Komunikasi dan Sosialisasi pada Anak dengan Autisme”, ini menghadirkan pembicara berkelas Internasional dari Amerika Serikat, Dr Thomas Layton, Ph.D. President Talk and Total Communication Service, Durhan North Carolina, Amerika Serikat. Materi seminar yang dipaparkan oleh pakar autis internasional berpengalaman di bidang Autisme selama 40 tahun ini benar-benar memukau 550 audience dan undangan yang hadir di seminar tersebut.

Pemaparan Lany Setyadi, S.Pd – Founder Komunikasi Sahabat Difabel Ketua Yayasan Yogasmara, Sebuah Autisme Center di Kota Semarang tentang “Autisme & Problematika Sosial Komunikasi,” Gouw Andy Siswanto sebagai Ketua INTI Jawa Tengah juga tak kalah menarik.

Dipandu sang Moderator dan Translator Sievy Megawaty S.Pd. jalannya acara seminar internasional berlangsung menarik dan sangat bermanfaat. Autis adalah gangguan perkembangan neurobiologis yang kompleks. Dapat terjadi pada anak dalam masa tiga tahun pertama kehidupannya.

Biasanya ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, interaksi sosial, dan minat yang terbatas serta berulang-ulang (repetitif).

Gejalanya cukup banyak, diantaranya yang paling menonjol adalah sulitnya melakukan kontak mata, terlambat bicara atau kalaupun berbicara dalam bahasa yang terdengar aneh dan tak mudah dimengerti, dan masih banyak lagi. Kesemuanya gejala ini membuat mereka tampak berbeda dengan anak-anak pada umumnya dan seperti hidup pada dunianya sendiri.

Jadi, autisme hanyalah gangguan perkembangan anak dari berbagai aspek, meliputi gangguan perkembangan komunikasi (bahasa), fungsi sosial dan perilaku repetitif, serta interaksi sosial, sehingga mereka menjadi berbeda dari yang lainnya.

Menghadapi anak autis pada hakekatnya sama saja dengan menghadapi anak-anak lainnya. Mereka adalah anak dengan dunia anak dengan segala polahnya.

Namun, ada banyak masalah dalam menanganinya, termasuk motivasi orangtua dan keluarga penyandang autis. Banyak orangtua yang terlanjur putus asa, lalu memberi julukan-julukan buruk kepada anak-anak autis.

Mitos bahwa autisme identik dengan abnormal atau genius, mempengaruhi pola pengasuhan orangtua dan keluarga kepada anak-anak autis.

Dalam kondisi ini label-label negatif pada anak-anak autis berseliweran dalam rumah, yang tanpa disadari menjelma menjadi identitas anak.

Hambatan Komunikasi
Berkomunikasi yang efektif dengan anak dan remaja istimewa ini sebenarnya tidaklah sulit, asal saja orangtua, keluarga dan masyarakat “mau tampil beda”.

Artinya, untuk mengatasi perbedaan ini perlu seni berkomunikasi. Dalam membangun komunikasi, ada beberapa hal yang perlu dikenali, yaitu yakinlah bahwa selalu ada jembatan sebagaimana seseorang berusaha untuk menyesuaikan dirinya dalam berbagai situasi, ada rasa peduli dengan mitra/apalagi dengan anak sendiri, dan setiap individu adalah budaya/unik, dan setiap hubungan atau komunikasi pada hakikatnya menuntut perubahan.

Dalam kaitannya dengan anak-anak dan remaja autis ini, membangun komunikasi dengan mereka adalah bagaimana menghargai anak dengan tulus, menjalin keterbukaan, dan terpenting bagaimana menerima keberbedaan mereka. Di sini, perspektif orangtualah yang perlu menyesuaikan dengan perspektif anak.

Jika komunikator mampu menghargai perbedaan orang lain dan mempunyai kemauan untuk menjalin hubungan dengan mereka, maka akan terjalinlah komunikasi efektif. Orangtua jangan lelah menghadapi anak dan remaja autis karena harapan mereka sebenarnya sederhana saja, yaitu ingin bergaul dengan teman-temannya, bersekolah, dihargai, dan disayangi, sesuai dengan hak-hak anak umumnya.

Kuncinya sederhana, orangtua perlu lebih dulu mengenali daya dan gaya komunikasi mereka sendiri sehingga terjalinlah komunikasi akrab dengan anak-anak dan remaja autis. Artinya, orangtua perlu juga memasuki dunia anak dan remaja autis.

INTERNATIONAL CHARITY SEMINAR yang diselenggarakan Perhimpunan INTI Jawa Tengah bekerjasama dengan Komunitas Sahabat Difabel (KSD) diharapkan dapat memberikan solusi dalam membangun komunikasi yang efektif pada anak penyandang autis. Seminar internasional ini menjadi sangat penting mengingat jumlah anak penyandang autis di dunia, terus bertambah dari tahun ke tahun, sehingga perlu dicarikan solusinya.(Red/GIS)