Indonesia Kaya Sumber Daya, Berkah atau Musibah?
china gzh 2019-06-30

Jakarta, CNBC Indonesia - Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Penggalan lirik lagu Kolam Susu dari Koes Plus itu menggambarkan betapa subur dan melimpahnya sumber daya alam Indonesia. Sesuatu yang membuat bangsa-bangsa Eropa zaman dulu rela mengorbankan darah dan nyawa untuk merebutnya.

Namun di balik berkah yang terkandung, sumber daya alam juga menjadi kutukan. Pertama ya itu tadi, menjadi penyebab perang karena semua pihak ingin menguasainya.


Kedua, ada istilah yang disebut kutukan sumber daya alam. Negara yang kaya sumber daya alam justru cenderung sulit maju, mentok di posisi negara berkembang.

Kutukan sumber daya alam itu sepertinya sedang dirasakan oleh Indonesia. Terbuai oleh begitu mudahnya menjual komoditas, Indonesia seakan lupa mengembangkan industri bernilai tambah.

Terlampau bertumpu kepada komoditas sebagai andalan ekspor membuat Indonesia kini kesulitan. Sepanjang Januari-Mei 2019, ekspor Indonesia tercatat US$ 68,46 miliar. Turun 8,61% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kali terakhir ekspor Indonesia tumbuh positif adalah pada Oktober 2018, selebihnya selalu terkontraksi alias minus. Teranyar, ekspor negatif 8,99% year-on-year (YoY) pada Mei.

Sepertinya nestapa ekspor belum selesai, karena harga komoditas masih cenderung turun sepanjang 2019. Bank Indonesia (BI) memperkirakan Indeks Harga Komoditas Ekspor Indonesia adalah -3,1 pada 2019. Lebih dalam ketimbang penurunan tahun sebelumnya yaitu -2,8.

Komoditas

2018

2019 (Proyeksi Juni)

Tembaga

6.7

-2.4

Batu bara

2.5

-9.8

CPO

-19.2

-0.7

Karet

-16.8

6.6

Nikel

27.8

-1.7

Timah

0.5

2.4

Aluminium

7.4

-9.6

Kopi

-15.4

-15.5

Lainnya

1.2

-0.3

IHKEI

-2.8

-3.1

Bank Indonesia

Inilah kelemahan ekspor yang terlalu bergantung terhadap komoditas. Rentan terhadap pergerakan harga. Begitu harga komoditas turun, buyar semua.

Koreksi harga komoditas tidak hanya melukai kinerja ekspor, tetapi juga konsumsi dalam negeri. Harga komoditas yang anjlok membuat keuntungan petani merosot.

Laba petani yang anjlok ini menjadi salah satu biang keladi kelesuan penjualan mobil. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) melaporkan penjualan mobil pada Mei anjlok 16,3% YoY.

(BERLANJUT KE HALAMAN 2)

(aji/aji)